Senin, 21 Desember 2009

Profil Kabupaten Subang


Kabupaten Subang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Subang. Kabupaten Subang secara geografis terletak antara 10731' - 10754' Bujur Timur dan 611' - 649' Lintang Selatan. Wilayah Kabupaten Subang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Indramayu di timur, Kabupaten Sumedang di tenggara, Kabupaten Bandung di selatan, serta Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang di barat. Luas wilayah Kabupaten Subang 2.051,76 km2. Kabupaten Subang terbagi atas 253 desa dan kelurahan yang tergabung dalam 22 kecamatan.

Sebagai penyandang predikat sebagai salah satu lumbung padi nasional, Kabupaten Subang menyumbangkan produksi padi yang mencapai 1.020.606 ton terhadap stok padi nasional. Produksi padi tersebut dihasilkan dari lahan basah 1.015.695 ton dan sisanya dari ladang. Varietas padi yang banyak ditanam di antaranya veriatas Ciherang, IR-64, Cigeulis dan PB-42. Sentra produksi padi terdapat di Kecamatan Binong, Pusakanagara, Ciasem, Pamanukan, Patokbeusi dan Blanakan.

Selain tanaman pangan, potensi sektor pertanian lainnya berupa palawija. Terdapat 5 jenis komoditas palawija, yakni jagung, dengan sentra produksi di Kecamatan Pagaden, Purwadadi dan Jalancagak, ubi kayu, dengan sentra produksi terdapat di Kecamatan Purwadadi, Sagalaherang, Cijambe dan Cipeundeuy, ubi jalar, dengan sentra produksi terdapat di Kecamatan Purwadadi, Jalancagak dan Sagalaherang, kacang tanah, dengan sentra produksi di Kecamatan Kalijati dan kedele, dengan sentra produksi di Kecamatan Compreng.

Di sektor perkebunan, daerah pegunungan yang berada di sebelah selatan merupakan areal komoditas perkebunan seperti cengkeh, kopi, tebu dan teh. Perkebunan besar yang ada, pada saat ini diusahakan oleh PT. Perkebunan VIII untuk komoditas karet dan teh. Sedangkan perkebunan tebu diusahakan oleh Pabrik Gula PT. Rajawali III.

Kabupaten Subang merupakan salah satu daerah penghasil minyak bumi dan gas alam, bahkan potensi migasnya terbilang cukup besar. Kabupaten Subang juga memiliki berbagai jenis sumber daya mineral. Potensi sumber daya pada sektor ini yang paling besar adalah bahan galian C. Dari jenis bahan mineral tersebut yang paling banyak ditambang dan dimanfaatkan adalah jenis bahan galian untuk bahan bangunan seperti batu belah, pasir dan sirtu. Sedangkan jenis bahan galian yang potensial untuk ditambang yang tersebar di beberapa kecamatan adalah sebagai berikut Pasir Pantai, Lempung, Lempung dan Trass, Sirtu, Gypsun, Batu Belah, Batu Gunung, Pasir Gunung, Pasir, Puzolan, Belerang, Yarosite, dan Batu Gamping.


Sumber Data:
Jawa Barat Dalam Angka 2007
(01-7-2007)
BPS Provinsi Jawa Barat
Jl. PHH Mustapa No. 43, Bandung 40124
Telp (022) 7272595, 7201696

Fax (022) 7213572

Sumber :

http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=3213

Selasa, 26 Mei 2009

DATA DAN ANGKA KABUPATEN SUBANG


GEOGRAFI
Terletak di antara = 107°31'-107°54 BT dan 6°11'- 6°49'LS
Luas Wilayah = 1.855,01 Km²

Demografi Tahun 2002
Populasi Total = 1.352.3542 jiwa
Laki-laki = 664.4071 jiwa
Perempuan = 687.9473 jiwa
Jumlah Rumah Tangga = 406.7956 jiwa. Wilayah Kabupaten Subang secara administratif dibagi dalam :

  • 22 wilayah Kecamatan
  • 32 wilayah Kelurahan
  • 219 desa

Secara topografi Kabupaten Subang dibagi 3 (tiga) zona yaitu pegunungan, berbukit-bukit/bergelombang, dataran rendah/pantai. Dimana zona perwilayahannya adalah sebagal berikut:

1. Wilayah pegunungan terletak dibagian Subang Selatan

Daerah pegunungan yang terdapat di Kabupaten Subang adalah Gunung Cangak, Gunung Tangkuban Perahu yaitu salah satu gunung di Jawa Barat yang dikenal sebagai obvek wisata pegunungan dengan kawah-kawahnya yang indah antara lain Kawah Ratu, Kawah Domas dan Kawah Upas, dengan ketinggian masing-masing kurang lebih 500 m diatas permukaan laut (dpl) dan 1700 m dpl.

2. Wilayah pedesaan terletak dibagian Subang Tengah dan Barat
Di wilayah pedataran terdapat beberapa situ/danau ± 25 buah.

3. Wilayah pantai terletak dibagian Subang Utara
Di wilayah pedataran/pantai selain dimanfaatkan sebagalidaerah pertanian tanaman pangan (lumbung beras Jawa Barat) juga diusahakan sebagai perikanan tambak dan obyek wisata pantai bahari (Pondok Bali). Iklim di Kabupaten Subang bervariasi suhu di daerah pegunungan antara 21' - 27' dan daerah pedataran / pantai antara 30' - 33' dengan kelembaban berkisar antara 72 - 91 persen serta mempunyai curah hujan berkisar antara 1600-3000 mm/tahun. Curah hujan paling sedikit di daerah pantal yaitu dengan curah hujan sekitar 1.866 mm/tahun dan yang paling banyak curah hujan di daerah pegunungan yaitu Kabupaten Subang bagian selatan, Ciater dan sekitrnya mencapai 4.952 mm/tahun.

Prasarana Jalan

  • Jalan Nasional 45.325 km
  • Jalan Propinsi 146.97 km
  • Jalan Kabupaten 933.20 km
  • Jalan Kota 99.41 km
  • Stasiun Kereta api 2 buah, Pabuaran dan Pagaden

Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan
Cakupan pelayanan air pedesaan sampai pada tahun 2001 baru mencapai 54,6 % sedangkan pelayanan air bersih melalui jaringan PDAM baru mencapai 9,94 persen terhadap seluruh penduduk Kabupaten subang.

Persampahan
Dalam upaya penanggulangan masalah persampahan Pemerintah Kabupaten Subang baru memiliki 1 buah Tempat Pembuangan akhir (TPA) yang terletak di Kelurahan Parung Kecamatan Subang. Sedangkan berdasarkan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Subang masih dibutuhkan pembangunan 1 buah Tempat Pembuangan Akhir dengan di Kecamatan Pamanukan.

Listrik dan Telekomunikasi
Pelayanan listrik melalui PLN sudah menjangkau seluruh desa (252 desa) di Kabupaten Subang, meskipun masih terdapat beberapa dusun atau kampung yang belum terlayani. Sedangkan jasa telekomunikasi melalui PT. Telkom pada tahun 2000 sudah terpasang saluran telepon sebanyak 23.030 SST.

Sarana Penunjang Daerah

Hotel : Berjumlah 74 hotel Sarana Kesehatan

  • Rumah Sakit Pemerintah : 1
  • Rumah Sakit Swasta : 2
  • Puskesmas perawatan : 1
  • Puskesmas non perawatan : 39
  • Puskesmas Pembantu : 92
  • Dokter : 120
  • Perawat : 205
  • Bidan : 271

Pendidikan dan Latihan
  • Taman Kanak-kanak (TK) : 55 Unit
  • Sekolah Dasar (SD) : 963 Unit
  • Sekolah Luar Biasa (SLB) : 5 Unit
  • Sekolah Menengah Pertama (SMP) : 70 Unit
  • Sekolah Menengah Umum (SMU) : 21 Unit
  • Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) : 17 Unit
  • Madrasah Diniyah : 140 Unit
  • Madrasah Ibtida’iyah : 117 Unit
  • Madrasah Tsanawiyah (MTs) : 53 Unit
  • Madrasah Aliyah (MA) : 21 Unit

Bank dan Asuransi
  • Bank Umum : 8 buah
  • Bank Perkreditan Rakyat : 29 buah
  • Pegadaian : 1 buah
  • Asuransi : 2 buah
  • LPK : 1 buah

Pasar
  • Pasar Pemda : 11 buah
  • Pasar Inpres : 2 buah
  • Pasar Desa : 19 buah
  • Pasar Swasta : 4 buah
  • Pasar Hewan : 1 Buah
Sumber :
27 Mei 2009

Sumber Gambar:

MENGENAL SISINGAAN


Sisingaan adalah suatu jenis kesenian tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak-arakan dalam bentuk helaran. Pertunjukannya biasa ditampilkan pada acara khitanan atau acara-acara khusus seperti ; menyambut tamu, hiburan peresmian, kegiatan HUT Kemerdekaan RI dan kegiatan hari-hari besar lainnya. 

Didalam seni sisingaan terdapat unsur-unsur seperti; seni tari, olah raga (Pencak Silat dan Jaipongan), seni karawitan, seni sastra dan seni busana. Semua unsur tersebut berpadu dan bersinerji membentuk suatu tari dan lagu dan acapkali ditambah dengan gerak akrobat yang membentuk formasi seperti standen. 

Peralatan yang digunakan dalam setiap pertunjukan terdiri dari; usungan sisingaan, terompet, ketuk,, kempul, goong dan kecrek. Busana pemainnya menggunakan pakaian adat sunda seperti; celana kampret, ikat kepala, ikat pinggang, baju taqwa dan menggunakan sepatu kelenci dan penunggang sisingaannya biasanya anak sunat yang menggunakan pakaian sunatan. 

Secara etimologis, sisingaan berasal dari kata ¿singa¿ yaitu suatu bentuk usungan yang mirip badan singa. Mengapa harus bentuk singa ? Konon khabarnya bahwa hewan singa melambangkan keperkasaan, keberanian dan kekuatan. 

Menurut catatan akhli seni (seniman), seni sisingaan pertamakali muncul pada tahun 1957 di Desa Ciherang sekitar 5 Km ke arah selatan Kota Subang. Kemudian berkembang ke daerah Cigadung dan daerah lainnya di sekitar Kota Subang. Tokoh-tokoh yang mempopulerkannya antara lain Ki Demang Ama Bintang, Ki Rumsi, Lurah Jani Mama Narasoma, dan Ki Alhawi. 

Hingga saat sekarang, kesenian sisingaan telah berkembang pesat dan tercatat ada sekitar 165 group dengan jumlah senimannya 2.695 orang. Perkembangannya ternyata tidak saja di daerah Subang tetapi telah berkembang di daerah Kabupaten Bandung dan Sumedang. 

Karena perkembangannya itulah, maka untuk melestarikan seni ini Pemerintah Kabupaten Subang selalu mengadakan festival secara rutin dan mempromosikan ke tingkat propinsi dan nasional terutama di kalangan Pedmerintahan dan dunia.

Sumber :
27 Mei 2009

Sumber Gambar :

PETA SUBANG


Lihat Peta Lebih Besar

TEMPAT WISATA TERFAVORIT DI SUBANG : SARI BUNIHAYU


LIBUR akhir tahun sudah di depan mata. Sudahkah Anda menyusun rencana akan ke mana mengisi liburan akhir tahun ini? Terlebih di Desember ini, banyak hari merah (libur nasional) yang bisa memperpanjang waktu libur Anda. Mungkin berlibur di dalam kota sudah bukan barang baru, bahkan Anda sudah merasa bosan dengan suasana kota. Ada baiknya jika Anda menghabiskan waktu libur dengan mengunjungi objek wisata alam maupun suasana pedesaan. Salah satu objek wisata yang manawarkan suasana pedesaan, yakni Desa Wisata Sari Bunihayu di Kabupaten Subang.

Untuk mencapai ke desa wisata ini cukup mudah. Dari Kota Bandung, Anda bisa menggunakan kendaraan umum antarkota Bandung-Subang. Di sepanjang perjalanan Anda akan menikmati suasana pegunungan, mulai dari kawasan Lembang sampai pertigaan Gunung Tangkubanperahu. Setelah itu, suasana perkebunan teh akan menjadi pelengkap perjalanan Anda.

Setelah menemukan Jalan Cagak, tinggal belok ke kiri ke arah Subang yang dipenuhi dengan kebun nanas. Anda kemudian belok kiri setelah menemukan papan nama Desa Wisata Sari Bunihayu. Tidak kurang dari satu km, Anda akan menemukan kawasan desa yang bernuansa asri.

 

Sepintas, kawasan desa tersebut pantas disebut desa wisata. Selain suasana pedesaan yang masih dipertahankan, juga terlihat dari bentuk fisik bangunan rumah masyarakatnya yang masih mempertahankan suasana kampung Sunda. Selain itu, terdapat juga sejumlah guess house yang dibuat menyerupai bangunan di pedesaan, termasuk bale sawala, pendopo serta panggung hiburan.

Suasana alamnya pun masih terlihat asri. Di sebelah timur penuh dengan kebun awi, sebelah selatan berdiri bukit yang asri, sebelah timur melintas Sungai Cileuleuy, dan sebelah utara terhampar persawahan yang siap dijadikan arena wisata desa. Kesemua alam pedesaan ini membuat pikiran Anda jadi tenang dan tenteram.

Walaupun dikelola pihak swasta, namun ternyata objek wisata ini menjanjikan ketenangan suasana pedesaan. Desa Sari Bunihayu memang menjanjikan suasana tenang dan asri pedesaan. Sekalipun di lokasi tersebut sudah dibangun beberapa vila dan kolam renang, termasuk kolam pemancingan. Namun lokasi ini masih mempertahankan tradisi masyarakat Desa Bunihayu dalam mengolah hasil bumi.

Begitu Anda memasuki kawasan desa wisata ini, Anda akan dibageakeun musik tradisional toleat yang menjadi musik khas Kabupaten Subang. Selain itu, akan ditemani pula dengan satu gelas bandrek minuman penghangat serta beberapa gorengan dan penganan khas Subang.

Selain itu, Anda pun akan diajak untuk menyaksikan anak-anak Desa Sari Bunihayu belajar menari dan melihat berbagai kesenian tradisional lainnya. Oleh pengelolanya, anak-anak desa yang berlatih kesenian tradisional ini dijadikan atraksi wisata untuk menghibur wisatawan.

Menurut pengakuan pemilik Desa Wisata Sari Bunihayu, H. Herman Mulyana, didirikannya desa wisata tersebut estuning nyaah kasarakan Sunda (karena rasa cinta pada tanah air Sunda), yang saat ini banyak yang menjadi kompleks perumahan dan mal. Tidak hanya lingkungan pedesaan yang berubah, tetapi juga masalah budayanya yang tergerus budaya modern. Banyak masyarakat desa di Jabar yang meninggalkan budayanya dan memilih budaya modern sebagai bagian dari gaya hidup.

Di lokasi ini, pengunjung bukan hanya disuguhi atraksi kesenian tradisional dan hanya bisa melihat warga desa tengah menggarap sawahnya maupun kebun serta memperbaiki selokan yang rusak. Para pengunjung juga ditawari untuk bergabung dengan warga desa atau petani untuk menggarap sawah, mulai dari nandur, ngawuluku, ngabuat (membajak sawah, menanam padi, menuai padi sampai panen).

Rupanya proses kerja para petani dalam menggarap sawah dijadikan andalan desa wisata ini bagi para wisatawan. Selain menggarap sawah, juga tata cara berkebun dan memanen tanaman umbi-umbian (ketela pohon dan ubi jalar). “Maklum, biasanya para wisatawan banyak yang tidak mengetahui tata cara menanam padi, berkebun sampai memanennya,” ungkap H. Herman saat berbincang dengan “GM”, beberapa waktu lalu.

Selain tanaman padi, di objek wisata ini pun pengunjung bisa memetik buah-buahan segar langsung dari pohonnya. Pasalnya, di lokasi ini ditanami berbagai tanaman buah-buahan asli daerah Jawa Barat maupun buah-buahan asli dari daerah lainnya. Menurut Herman, hampir semua tanaman buah dari berbagai daerah Indonesia bisa tumbuh subur, salah satunya adalah tanaman buah matoa dari Irian (Papua). Tak hanya itu, salah satu tanaman langka, yakni buah samolo, juga tumbuh subur di sana. Sayang, kedua buah langka itu sedang tidak berbuah, hanya yang terlihat bunga-bunganya tengah mekar.

“Kedua tanaman ini memang tumbuh buahnya tidak mengenal musim. Sayang kedua pohon ini sudah dipanen oleh para wisatawan yang datang lebih awal,” kata H. Herman.Kita lewatkan saja kedua buah langka tersebut, Anda masih bisa memetik buah-buahan lainnya, seperti durian, lengkeng, rambutan rapiah, gandaria, pisang, nanas, dan jambu yang tengah berbuah. Buah-buahan tersebut sesudah dipetik bisa langsung dimakan di tempat atau dibawa pulang sekadar untuk oleh-oleh. Tentunya mesti ditimbang dulu warga desa yang bertindak sebagai penjaga kebun. Selain buah-buahan, Anda juga bisa menikmati makanan khas ala pedesaan, seperti ubi rebus, singkong, jagung bakar maupun ikan bakar yang memang banyak tersedia di sana.

Jika belum puas, Anda bisa merebus ubi, singkong atau membakar ikan dan jagung sendiri (self service), tergantung selera. Hal itu memang sengaja diberikan pengelola untuk kepuasan para pengunjung. Bahkan pengelola pun menyuguhkan berbagai atraksi kesenian tradisi Kabupaten Subang maupun kabupaten lainnya di Jabar.

Unik memang. Pasalnya, seluruh masyarakat Desa Sari Bunihayu dilibatkan sebagai menjaga kebun sekaligus sebagai guide. Tak heran jika berlibur di sana, Anda sudah termasuk masyarakat desa dengan segudang aktivitasnya. Mengenai penginapan, Anda tidak perlu bingung karena pengelola telah menyiapkan sejumlah vila maupun bungalo dengan tarif bervariatif.

Tetapi alangkah disayangkan, pengunjung tidak bisa menginap di rumah-rumah milik warga setempat. Padahal, kalau pengunjung diberi kesempatan tidur di rumah warga, dipastikan ada seperti ikatan batin antara pengunjung dengan warga. Jika tertarik, Anda bisa mengunjungi Desa Wisata Sari Bunihayu setiap akhir pekan.

Ririmbunan pepohonan dan hijaunya duan teh serta kuningnya buah nanas sudah menanti Anda. Tak hanya itu, deretan tukang ojek pun siap meramaikan kedatangan Anda sekeluarga. Tetapi yang pasti, Anda jangan senang dulu. Pasalnya, dibutuhkan stamina dan dana cukup untuk bisa berlibur di Desa Wisata Bunihayu. Karena keterlibatan Anda dan keluarga bersama warga sekitar dibutuhkan stamina yang cukup. Sedangkan untuk masalah dana, harus dipersiapkan jika Anda ingin membawa oleh-oleh khas dari Desa Bunihayu.

Sumber :

http://desawisata.com/?p=639

27 Mei 2009


KABUPATEN SUBANG, AGRIBISNIS JADI PILIHAN


Memasuki era otonomi, agribisnis menjadi pilihan Kabupaten Subang untuk mendorong peningkatan pendapatan masyarakat. Pemilihan agribisnis, yang dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai usaha yang berhubungan dengan pertanian, terkait dengan potensi yang dimiliki. Daerah di pesisir Utara Laut Jawa ini mempunyai sumber kekayaan alam yang tersebar dalam tiga zona: pegunungan, dataran rendah, dan laut.

DAERAH pegunungan di sebelah selatan merupakan areal komoditas perkebunan seperti cengkeh, kopi, dan teh. Pada tahun 2001 dari areal kopi rakyat seluas 446,5 hektar yang tersebar di sembilan kecamatan antara lain Cisalak, Sagalaherang, dan Tanjungsiang dihasilkan 5.282 ton kopi. Sementara itu, perkebunan cengkeh 670 hektar di delapan kecamatan, terutama Sagalaherang menghasilkan 1.995 ton cengkeh. Sedangkan perkebunan teh rakyat di Kecamatan Sagalaherang, Jalancagak dan Cisalak. Teh yang dihasilkan dari lahan 296 hektar mencapai 1.895 ton. Perpaduan areal perkebunan rakyat, alam yang asri dan udara yang segar, memungkinan kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung ini menjadi obyek wisata.

Sementara itu, laut menyediakan berbagai jenis komoditas yang menjadi gantungan hidup penduduk Kecamatan Balanakan dan Legonkulon. Di kedua tempat ini terdapat 544 rumah tangga perikanan laut dan sekurangnya dua ribu rumah tangga buruh perikanan laut. Meskipun rumah tangga perikanan laut itu hanya sekitar tiga persen jika dibandingkan dengan seluruh rumah tangga perikanan berjumlah 18.224, namun mampu memberikan produksi Rp 120,6 milyar. Hasil ikan dari laut yang memiliki panjang pantai sekitar 22 kilometer ini 14.070 ton. Angka ini setara dengan 46 persen produksi perikanan Subang yang seluruhnya 30.151 ton dengan nilai Rp 334,9 milyar.

Subang memanfaatkan dataran rendah untuk mengolah sawah. Dengan areal sawah 84.701 hektar atau 41,28 persen dari luas seluruh wilayah, Subang menjadi kabupaten yang memiliki lahan sawah terluas ketiga di Jawa Barat. Lainnya, Kabupaten Indramayu dan Karawang masing-masing 118.513 hektar dan 93.590 hektar.

Sekurangnya 70 persen sawah di Subang merupakan sawah irigasi teknis. Jenis padi yang digunakan antara lain varietas Way Apu Buru (WAY A-B), IR-64 dan Widas. Dengan suplai air antara lain dari saluran induk Tarum Timur, varietas padi unggul tahan wereng yang ditanam menghasilkan padi tidak kurang 888.688 ton pada tahun 2001. Produksi ini berasal dari panen 168.693 hektar. Sentra produksi padi menyebar di seluruh kecamatan, namun Kecamatan Binong dan Pusakanagara merupakan daerah penghasil padi terbesar. Kedua kecamatan itu masing-masing menghasilkan tidak kurang 89.000 ton dan 68.000 ton padi.

Selain padi, andalan dari kelompok buah-buahan, nanas dan rambutan. Setiap tahun Subang menghasilkan tidak kurang 59.000 ton nanas. Sentra produksi buah yang kulitnya bersusun sisik ini di Kecamatan Jalancagak. Tetapi, tidak semua nanas yang dihasilkan adalah nanas "Si Madu" yang kondang ke seluruh negeri. Nanas jenis ini terkenal karena berair banyak dan mempunyai rasa manis tanpa rasa getir dan tidak menyebabkan gatal di kerongkongan.

Buah yang memiliki berat antara 3-3,5 kilogram ini menjadi istimewa karena tidak mudah ditemukan. Sama seperti satu atau dua kelapa muda kopyor yang ditemukan dalam rimbunan buah kelapa, sebutir atau dua butir nanas madu mungkin bisa ditemukan dalam satu kuintal nanas. Itu sebabnya tidak mudah bagi yang ingin mencicipi buah itu menemukannya dalam deretan kios penjual nanas yang bertebaran di sepanjang jalan di Kecamatan Jalancagak.

Untuk buah rambutan yang juga komoditas unggulan, Subang menghasilkan 36.017 ton rambutan dari 487.489 pohon. Sebagian besar berada di kecamatan Purwadadi, sebagian lagi tersebar di Kalijati, Cipeundeuy dan Cikaum.

Padi, buah-buahan, sayur-sayuran, dan palawija yang lazim disebut tanaman bahan makanan dapat dikatakan sebagai penggerak ekonomi Subang. Pada tahun 2001 tanaman bahan pangan ini menghasilkan nilai sedikitnya Rp 1,8 trilyun. Angka ini setara dengan 89,5 persen dari nilai seluruh kegiatan ekonomi di bidang pertanian yang berjumlah tidak kurang dari Rp 2 trilyun.

Di antara sembilan lapangan usaha, pertanian yang terdiri dari lima jenis kegiatan: tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan menyerap tenaga kerja terbanyak, 335 ribu orang. Jumlah ini mencapai 55 persen dari seluruh tenaga kerja yang berjumlah 640.746 oang. Hasil kerja mereka memberikan kontribusi tidak kurang dari 44,4 persen dari seluruh nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang berjumlah Rp 4,5 trilyun.

Pemasaran produk pertanian Subang relatif mudah. Selain untuk konsumsi masyarakat Subang sendiri, juga untuk memenuhi kebutuhan penduduk di daerah-daerah tetangga seperti Jakarta dan Bandung. Kemudahan itu ditunjang dengan lokasi Subang yang strategis. Daerah ini berjarak 58 kilometer dari ibu kota Jawa Barat dan 161 kilometer dari ibu kota negara serta berada di jalur pantai utara Jawa yang merupakan jalur transportasi angkutan darat.

Pada pasar lokal, hasil pertanian antara lain digunakan untuk konsumsi wisatawan yang berkunjung ke daerah ini. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Subang mencatat 2.661.213 wisatawan nusantara dan 34.076 wisatawan asing mendatangi 11 obyek wisata di Subang. Terbanyak datang ke lokasi primadona wisata kabupaten ini, pemandian air panas di Desa Ciater, Kecamatan Jalancagak. Sekitar 1,6 juta orang menikmati pesona alam dan udara yang sejuk atau berendam di air yang diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit dan tulang. Tempat favorit yang lain adalah Gunung Tangkuban Perahu. Legenda percintaan Sangkuriang dengan ibunya Dayang Sumbi, menjadi salah satu magnet yang menarik minimal 800 ribu orang datang ke gunung yang tingginya sekitar 1.930 meter di atas permukaan laut (29 Januari 2003)

Sumber :
Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), BE Julianery/Litbang Kompas. KOMPAS 29/01/03 dalam :
27 Mei 2009

Sumber Gambar :

SEJARAH KABUPATEN SUBANG



Prasejarah
Bukti adanya kelompok masyarakat pada masa prasejarah di wilayah Kabupaten Subang adalah ditemukannya kapak batu di daerah Bojongkeding (Binong), Pagaden, Kalijati dan Dayeuhkolot (Sagalaherang). Temuan benda-benda prasejarah bercorak neolitikum ini menandakan bahwa saat itu di wilayah Kabupaten Subang sekarang sudah ada kelompok masyarakat yang hidup dari sektor pertanian dengan pola sangat sederhana.
Selain itu, dalam periode prasejarah juga berkembang pula pola kebudayaan perunggu yang ditandai dengan penemuan situs di Kampung Engkel, Sagalaherang.

Hindu
Pada saat berkembangnya corak kebudayaan Hindu, wilayah Kabupaten Subang menjadi bagian dari 3 kerajaan, yakni Tarumanagara, Galuh, dan Pajajaran. Selama berkuasanya 3 kerajaan tersebut, dari wilayah Kabupaten Subang diperkirakan sudah ada kontak-kontek dengan beberapa kerajaan maritim hingga di luar kawasan Nusantara. Peninggalan berupa pecahan-pecahan keramik asal Cina di Patenggeng (Kalijati) membuktikan bahwa selama abad ke-7 hingga abad ke-15 sudah terjalin kontak perdagangan dengan wilayah yang jauh. Sumber lain menyebutkan bahwa pada masa tersebut, wilayah Subang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Kesaksian Tome’ Pires seorang Portugis yang mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebutkan bahwa saat menelusuri pantai utara Jawa, kawasan sebelah timur Sungai Cimanuk hingga Banten adalah wilayah kerajaan Sunda.

Islam
Masa datangnya pengaruh kebudayaan Islam di wilayah Subang tidak terlepas dari peran seorang tokoh ulama, Wangsa Goparana yang berasal dari Talaga, Majalengka. Sekitar tahun 1530, Wangsa Goparana membuka permukiman baru di Sagalaherang dan menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok Subang.

Kolonialisme
Pasca runtuhnya kerajaan Pajajaran, wilayah Subang seperti halnya wilayah lain di P. Jawa, menjadi rebutan berbagai kekuatan. Tercatat kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda berupaya menanamkan pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk menjangkau Batavia. Pada saat konflik Mataram-VOC, wilayah Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik bagi pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia. Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa dengan Sunda, karena banyak tentara Sultan Agung yang urung kembali ke Mataram dan menetap di wilayah Subang. Tahun 1771, saat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di Subang, tepatnya di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang memerintah secara turun-temurun. Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816) konsesi penguasaan lahan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa. Tahun 1812 tercatat sebagai awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah yang selanjutnya membentuk perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P & T Lands). Penguasaan lahan yang luas ini bertahan sekalipun kekuasaan sudah beralih ke tangan pemerintah Kerajaan Belanda. Lahan yang dikuasai penguasa perkebunan saat itu mencapai 212.900 ha. dengan hak eigendom. Untuk melaksanakan pemerintahan di daerah ini, pemerintah Belanda membentuk distrik-distrik yang membawahi onderdistrik. Saat itu, wilayah Subang berada di bawah pimpinan seorang kontrilor BB (bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan di Subang.

Nasionalisme
Tidak banyak catatan sejarah pergerakan pada awal abad ke-20 di Kabupaten Subang. Namun demikian, Setelah Kongres Sarekat Islam di bandung tahun 1916 di Subang berdiri cabang organisasi Sarekat Islam di Desa Pringkasap (Pabuaran) dan di Sukamandi (Ciasem). Selanjutnya, pada tahun 1928 berdiri Paguyuban Pasundan yang diketuai Darmodiharjo (karyawan kantor pos), dengan sekretarisnya Odeng Jayawisastra (karyawan P & T Lands). Tahun 1930, Odeng Jayawisastra dan rekan-rekannya mengadakan pemogokan di percetakan P & T Lands yang mengakibatkan aktivitas percetakan tersebut lumpuh untuk beberapa saat. Akibatnya Odeng Jayawisastra dipecat sebagai karyawan P & T Lands. Selanjutnya Odeng Jayawisastra dan Tohari mendirikan cabang Partai Nasional Indonesia yang berkedudukan di Subang. Sementara itu, Darmodiharjo tahun 1935 mendirikan cabang Nahdlatul Ulama yang diikuti oleh cabang Parindra dan Partindo di Subang. Saat Gabungan Politik Indonesia (GAPI) di Jakarta menuntut Indonesia berparlemen, di Bioskop Sukamandi digelar rapat akbar GAPI Cabang Subang untuk mengenukakan tuntutan serupa dengan GAPI Pusat.

Jepang
Pendaratan tentara angkatan laut Jepang di pantai Eretan Timur tanggal 1 Maret 1942 berlanjut dengan direbutnya pangkalan udara Kalijati. Direbutnya pangkalan ini menjadi catatan tersendiri bagi sejarah pemerintahan Hindia Belanda, karena tak lama kemudian terjadi kapitulasi dari tentara Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Dengan demikian, Hindia Belanda di Nusantara serta merta jatuh ke tangan tentara pendudukan Jepang. Para pejuang pada masa pendudukan Belanda melanjutkan perjuangan melalui gerakan bawah tanah. Pada masa pendudukan Jepang ini Sukandi (guru Landschbouw), R. Kartawiguna, dan Sasmita ditangkap dan dibunuh tentara Jepang.

Merdeka
Proklamasi Kemerdekaan RI di Jakarta berimbas pada didirikannya berbagai badan perjuangan di Subang, antara lain Badan Keamanan Rakyat (BKR), API?Pesindo, Lasykar Uruh, dan lain-lain, banyak di antara anggota badan perjuangan ini yang kemudian menjadi anggota TNI. Saat tentara KNIL kembali menduduki Bandung, para pejuang di Subang menghadapinya melalui dua front, yakni front selatan (Lembang) dan front barat (Gunung Putri dan Bekasi). Tahun 1946, Karesidenan Jakarta berkedudukan di Subang. Pemilihan wilayah ini tentunya didasarkan atas pertimbangan strategi perjuangan. Residen pertama adalah Sewaka yang kemudian menjadi Gubernur Jawa Barat. Kemudian Kusnaeni menggantikannya. Bulan Desember 1946 diangkat Kosasih Purwanegara, tanpa pencabutan Kusnaeni dari jabatannya. Tak lama kemudian diangkat pula Mukmin sebagai wakil residen. Pada masa gerilya selama Agresi Militer Belanda I, residen tak pernah jauh meninggalkan Subang, sesuai dengan garis komando pusat. Bersama para pejuang, saat itu residen bermukim di daerah Songgom, Surian, dan Cimenteng. Tanggal 26 Oktober 1947 Residen Kosasih Purwanagara meninggalkan Subang dan pejabat Residen Mukmin yang meninggalkan Purwakarta tanggal 6 Februari 1948 tidak pernah mengirim berita ke wilayah perjuangannya. Hal ini mendorong diadakannya rapat pada tanggal 5 April 1948 di Cimanggu, Desa Cimenteng. Di bawah pimpinan Karlan, rapat memutuskan : 1.Wakil Residen Mukmin ditunjuk menjadi Residen yang berkedudukan di daerah gerilya Purwakarta. 2.Wilayah Karawang Timur menjadi Kabupaten Karawang Timur dengan bupati pertamanya Danta Gandawikarma. 3.Wilayah Karawang Barat menjadi Kabupaten Karawang Barat dengan bupati pertamanya Syafei. Wilayah Kabupaten Karawang Timur adalah wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta sekarang. Saat itu, kedua wilayah tersebut bernama Kabupaten Purwakarta dengan ibukotanya Subang. Penetapan nama Kabupaten Karawang Timur pada tanggal 5 April 1948 dijadikan momentum untuk kelahiran Kabupaten Subang yang kemudian ditetapkan melalui Keputusan DPRD No. : 01/SK/DPRD/1977.

Sumber :
27 Mei 2009

Sumber Gambar :